Thursday, November 23, 2006

19 JUTA PENDUDUK JATIM TERANCAM KECELAKAAN INDUSTRI MIGAS


Press Release, 24 November 2006

Lagi, daftar panjang kecelakaan migas di tengah permukiman padat terjadi dengan meledaknya pipa milik Pertamina yang berdekatan dengan pusat semburan lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo (22/11). Ledakan yang disertai api yang membumbung tinggi 500 - 1000 meter ini menurut beberapa keterangan terlihat sampai ke Lamongan, Mojokerto, dan Malang. Sesaat kemudian menyembur api hingga 50 meter selama 10 – 15 menit. Setelah semburan api di titik ledakan ini terhenti, kemudian keluar semburan api setinggi kurang lebih 15 meter dari flare milik Pertamina di Desa Permisan, sekitar 3 km ke arah timur dari lokasi ledakan selama kurang lebih 1 jam.

Hingga pukul 00.00 WIB (24/11) tercatat 10 orang meninggal, 21 orang luka-luka, dan 5 orang hilang. Jumlah ini kemungkinan masih bisa bertambah karena sampai saat ini belum diketahui jika ada pengunjung atau warga sekitar yang juga menjadi korban. Akibat ledakan tersebut, warga desa di sekitar lokasi panik dan berhamburan ke luar rumah untuk menyelamatkan diri, beberapa diantaranya shock dan pingsan. Menurut Pak Taufik (warga Ds. Gedang) dan Bu Sauda (warga Ds. Permisan) “Kejadian malam itu seperti kiamat”. Keesokan harinya (23/11) beberapa warga berbondong-bondong menyewa truk untuk pindah rumah, ada pula yang telah membereskan barang-barang milik mereka. Warga takut jika kejadian tersebut terulang lagi.

Rupanya kejadian semburan gas dan lumpur panas Lapindo di Porong Sidoarjo (29/5) yang hingga kini belum bisa dihentikan dan meledaknya pipa milik Petrochina di Sukowati Bojonegoro (29/7), tidak dijadikan pelajaran berharga bagi pemerintah untuk menghentikan kegiatan industri migas di kawasan permukiman padat. Padahal kedua kejadian tersebut jelas-jelas menyengsarakan ribuan warga. Namun, pemerintah rupanya lebih senang berpihak pada investor dan memungut hasil produksi migas daripada melindungi keselamatan warga dari risiko bencana yang ditimbulkanya.

Jika kegiatan industri migas di permukiman padat ini masih terus dilanjutkan, padahal di Jawa Timur terdapat 28 blok migas yang tersebar di 29 kabupaten/kota, maka lebih dari 19 juta (lebih 52%) penduduk Jawa Timur terancam keselamatannya karena harus hidup berdampingan dengan risiko bencana yang ditimbulkanya.

Oleh karena itu, mulai saat ini masyarakat Jawa Timur harus lebih kritis dan mewaspadai setiap kegiatan industri migas di sekitar wilayahnya masing-masing, baik yang sudah berjalan maupun yang akan direncanakan. Keselamatan jiwa merupakan hal yang sangat penting karena pada faktanya pun kehadiran industri migas di suatu wilayah tidak mensejahterakan warga di sekitarnya.

Berikut ini kabupaten/ kota di Jawa Timur yang wilayahnya terancam dijadikan industri migas (Sumber: JATAM) :

1. Pacitan

2. Ponorogo

3. Trenggalek

4. Tulungagung

5. Blitar

6. Kediri

7. Malang

8. Lumajang

9. Pasuruan

10. Jember

11. Sidoarjo

12. Mojokerto

13. Jombang

14. Nganjuk

15. Madiun

16. Magetan

17. Ngawi

18. Bojonegoro

19. Tuban

20. Lamongan

21. Gresik

22. Bangkalan

23. Sampang

24. Sumenep

25. Pamekasan

26. Kota Blitar

27. Kota Pasuruan

28. Kota Mojokerto

29. Kota Surabaya

Contact Person :

Ridho Saiful Ashadi, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jatim (08155093589/ 03171116367)

Yuliani, Kadiv. Informasi, Kampanye dan Database Eksekutif Daerah Walhi Jatim (085648027407)

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home